Hubungan Umat Beragama dan Penghayat di Banyumas Berlangsung Harmonis

Muhammad Roqib, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Banyumas. Foto: Tefur

Muhammad Roqib, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Banyumas. Foto: Tefur

PURWOKERTO-Umat beragama dan penghayat kepercayaan di Banyumas bisa terbilang rukun. Potensi konflik ada, namun tidak berkembang menjadi konflik yang besar. Mohammad Roqib, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Banyumas, mengungkapkan hal tersebut saat Sarasehan. “Suran untuk Kerukunan Umat Beragama” di Pendopo Guna Dwi Wangsa, Perumahan Limas Agung, Purwokerto, Senin (17/11). “Potensi (konflik-red) seperti ini ada, tapi tidak tumbuh di Banyumas,” ungkap Roqib.

Sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama, ia mengaku sering mendapat aduan atau diminta menengahi konflik agama di sekitar Banyumas. Namun, menurutnya, semua bisa diatasi dan tidak menjadi kekerasan fisik.

Suwardi, sebagai Ketua Penghayat Kepercayaan Kabupaten Banyumas, menekankan bahwa peraturan dan undang-undang yang sudah ada harus dilaksanakan dengan baik. Menurutnya, hubungan umat beragama dan penghayat kepercayaan di Banyumas berjalan baik karena peraturan dan undang-undang kepada penghayat Kepercayaan-yang jumlahnya lebih sedikit dari umat beragama, sudah sesuai harapan.

Suwardi menjelaskan, hak sipil penghayat bahwa sebagian besar sudah terpenuhi, seperti perkawinan, pencatatan sipil, pendaftaran PNS, dan kematian. “Contohnya, istri saya sendiri adalah seorang PNS,” jelasnya. Hanya saja, yangsedang dirumuskan oleh penghayat kepercayaan adalah tentang kurikulum pendidikan.“Kurikulum Pendidikan belum ada, sedang kami bicarakan dan rumuskan bersama,”tambah Suwardi.

Terkait hubungan umat beragama danpenghayat , Roqib menghimbau agar kebhinekaan di Indonesia dihayati sesuai ajaran masing-masing. Suwardi pun sepakat dengan hal tersebut. (Sucipto)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.