KPU Mengajak Millennial Memilih

Oleh: Muhammad Muflih Rizqullah

Dari kiri ke kanan: Dr.Slamet Rosyadi, M.Si dan Wahyu Setiawan. Foto: Marita Dwi Asriyani

Dalam kuliah singkat yang juga bagian dari sambutannya pada acara KPU Goes to Campus, rektor terpilih Unsoed 2018-2022, Suwarto, menerangkan bahwa memilih merupakan panggilan moral. Sore itu aula gedung Soemardjito disulap menjadi ball room, lantunan musik populer terdengar mengisi ruangan, dengan tata meja-kursi diatur secara tidak biasa: satu meja bundar dilingkari delapan kursi. Di sisi kiri dan kanan aula disiapkan bermacam stan hidangan tradisional Banyumas guna menjamu hadirin. Panitia memperhitungkan bahwa mayoritas tamu mereka adalah anak muda, maka suasana tertentu pun diciptakan guna menarik perhatian mereka. Komisioner KPU pusat Wahyu Setiawan turut hadir sebagai pembicara pramutama didampingi oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsoed Dr.Slamet Rosyadi, M.Si.

Dalam KPU Goes to Campus, tujuan utama KPU adalah mensosialisasikan sistem pemilu yang baru, yaitu pemilu serentak. Model pemilu yang seperti ini baru pertama kali diterapkan di Indonesia, beberapa kali di tekankan oleh Slamet Rosyadi bahwa para millenial adalah manusia Indonesia pertama yang akan merasakan pemilu serentak. Di pemilu serentak tahun 2019, pejabat legislatif dan eksekutif dipilih bersamaan, tidak seperti penyelenggaraan sebelumnya dimana pejabat legislatif dipilih terlebih dahulu, menyusul dua bulan kemudian pemilihan presiden. Selain agenda mengenalkan pemilu serentak, KPU juga menganjurkan agar pemilih muda seperti mahasiswa antusias berpartisipasi dalam pemilu serentak.

Partisipasi Politik

Suwarto dalam sambutannya menerangkan, penyelenggaraan pemilu merupakan bentuk penerapan hak asasi manusia di bumi Indonesia. Kecuali dicabut hak pilihnya, tiap orang yang sudah memenuhi syarat sebagai pemilih berhak menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Selain itu, pelaksanaan pemilu diadakan guna memastikan jalannya demokrasi di Indonesia. Suwarto menambahkan, partisipasi politik merupakan bentuk penunaian kewajiban moral individu. Dalam artian, setiap warga yang mempunyai hak pilih turut bertanggung jawab akan pemimpin seperti apa yang akan terpilih nantinya. Keikutsertaan tiap individu dalam memilih secara tidak langsung mempengaruhi kualitas pemimpin terpilih.

Bagaimana berpolitik yang sehat dan berkualitas? Suwarto turut memberikan panduan bagaimana memilih secara cerdas. Mencari rekam jejak para calon ditekankan oleh Suwarto sebagai acuan utama dalam menilai calon. Dalam era digital, penulusuran informasi semakin mudah dilakukan. Pencarian rekam jejak juga bisa menambah kemawasan berpolitik tiap individu. Dengan mengetahui latar belakang dan visi misi calon, hal itu akan mempermudah pemilih untuk mengetahui kompetensi dan keberpihakan calon.

Generasi Millennial, Pemilih Pemula

Dosen FISIP Unsoed Slamet Rosyadi menjelaskan kenapa pemilih muda sangat penting keikutsertaannya dalam Pemilu Serentak 2019. “Ada 14 juta pemilih pemula,” terangnya. Anak-anak muda yang berjumlah 14 juta tersebut adalah para generasi millennial yang masuk usia pemilih yang sekarang ini usia mereka berkisar antara 19 sampai 38 tahun. Menurutnya, terdapat satu karakteristik menonjol dari pemilih pemula,“Millennial cenderung apatis, tidak mau ikut kegiatan politik” terang Slamet. Pemilih pemula juga, seturut Slamet “Cepat terpengaruh (berita) hoax dan politik identitas” ini karena rendahnya taraf melek politik millennial, akibat dari sikap acuh tak acuh dengan peristiwa politik termutakhir di Indonesia. Ini menyebabkan para pemilih pemula rentan terhadap isu SARA yang menjadikan mereka cenderung emosional.

Namun, Slamet tetap optimistis pada pemilih pemula. Ia menilai generasi millennial, “Terbuka dengan nilai-nilai keseteraan, politik independen. Lepas dari pengaruh ideologis dan ikatan kekeluargaan.” ini mengindikasikan millennial lebih bebas dalam memilih, mereka akan memilih calon yang sesuai visi politiknya dengan mereka. Dibantu dengan teknologi guna penelusuran rekam jejak, pemilih pemula merupakan pemilih bebas yang berpotensi menjadi pemilih rasional—yang baik bagi jalannya demokrasi. Ini menjadikan millennial sebagai harapan Indonesia guna terciptanya pemilu yang Luber Jurdil. Mereka diharapkan dapat menjaga agar pesta demokrasi tahun 2019 dapat berjalan dengan sehat.