Ada Wayang Dari Suket

Oleh: Dara Nuzzul Ramadhan

Salah satu Wayang Suket buatan Badriyanto (22/6/2017). Foto: Aziz Dwi Apriyanto

Pernahkah Anda membayangkan jika wayang ternyata bisa terbuat dari suket? Bukan dari kulit ataupun kayu. Lalu, bagaimanakah cara pembuatannya? Diikat atau dilipat? Mari beranjangsana ke Purbalingga. Di sana, Anda akan menjumpai pembuat wayang suket dengan cara dianyam layaknya kursi rotan atau tikar rumahan.

Purbalingga adalah kabupaten yang letaknya di timur laut Purwokerto. Purbalingga menyimpan karya bermuatan lokal yang khas, ialah Wayang Gepuk, istilah dari wayang suket buatan Mbah Gepuk. Wayang Gepuk berbeda dengan wayang suket lain. Ia dibikin bukan dengan cara diikat atau dilipat, tetapi dianyam. Alhasil, wujudnya pun terlihat lebih rapi ketimbang wayang suket lain. Banyak seniman dan budayawan yang menganggap Wayang Gepuk merupakan karya bernilai seni tinggi. Wayang Gepuk memiliki kekhasan tersendiri.

Mbah Gepuk disebut-sebut sebagai penemu teknik menganyam pada wayang suket. Bahkan banyak yang menjulukinya “sang maestro wayang suket”. Pesona Wayang Gepuk mulai dikenal publik ketika diangkat lewat laporan Sindhunata—pewarta sekaligus budayawan asal Yogyakarta. Lantas, Wayang Gepuk pertama kali dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta pada 1995. Sang maestro itu meninggal di tahun 2002. Sampai saat ini, hanya ada dua orang yang mampu membuat wayang suket ala Gepuk. Merekalah Badriyanto dan Ikhsanudin. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai wayang suket ini, pada Kamis (22/6), Skëtsa mendatangi kediaman Badriyanto, cucu dari Mbah Gepuk.

Badriyanto menyambut kedatangan kami saat berhasil menyambangi rumahnya. Laki-laki berperawakan sedang itu tinggal di Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga. Wlahar bersebelahan dengan desa kelahiran Jenderal Soedirman: Bantarbarang. Pekerjaan Badri adalah tukang kayu. Rumahnya sederhana, tersusun oleh kayu dilapisi cat berwarna hijau muda. Di ruang tamu, foto anak Badri terpajang. Di sebelah foto itu, terpajang pula piagam penghargaan dari Dewan Kerajinan Nasional serta sertifikat dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Ketika kami dipersilakan duduk, ada sebuah wayang berukuran sepanjang lengan tergeletak di meja. Warnanya kuning keemasan dan agak mengilap. Badri bilang, jika sudah lama, warna wayang akan berubah menjadi kecokelatan. Selain warna yang mengesankan, rupanya juga apik sekali. Sampai-sampai, kami tak menyangka bila wayang itu terbuat dari suket. Berkat dari detail yang disusun secara tekun, bentuk tokoh mudah dikenali seperti ketika kita melihat wayang kulit. Rapi. Kendati anyaman wayang itu belum utuh sepenuhnya, ia mulai mewujud sebagai salah satu tokoh Pandawa Lima. Wayang itu sedang dalam proses anyaman Badri. Badri hanya membikin wayang dengan suket kasuran, suket yang biasa tumbuh pada bulan Sura—bulan pertama dalam penanggalan Jawa

Badri mulai berkisah soal Mbah Gepuk. Mbah Gepuk memiliki nama asli Kasanwikrama Tunut. Ia lahir pada tahun 1905 di Desa Wlahar. Mbah Gepuk dulu adalah pekerja serabutan. Ia petani juga seniman. Segala hal dipelajari oleh Mbah Gepuk secara autodidak, mulai dari mengolah kayu, bertani, sampai membuat wayang suket. Bakat kesenimanannya alami. Ia tak pernah mengenyam pendidikan seni di institusi manapun. Biar begitu, ia diriwayatkan pernah menjadi dalang ebeg dan wayang golek menak ketika remaja.

Konon, Mbah Gepuk suka menyendiri dan menyepi ketika masa mudanya. Saat bocah, ia dikenal sebagai cah angon, anak gembala. Pada suatu siang, di tahun 1928. Waktu itu Mbah Gepuk sedang menggembalakan kambing-kambingnya. Di sekitarnya tumbuh suket kasuran. Suket kasuran hanya dianggap gulma oleh banyak orang. Ia tak bernilai. Namun, di tangan Mbah Gepuk, suket itu bisa mewujud sebagai suatu keindahan. Intuisinya mulai bermain. Tangannya mengambil dan dengan asyik memainkan suket itu. Suket demi suket mulai ia anyam. Wujud wayang terlihat. Wayang Wisanggeni menjadi wayang suket pertama hasil olah tangan Mbah Gepuk.

Mengapa malah suket yang dijadikan bahan untuk membuat wayang? Badri tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan itu. Yang ia lakukan hanya meneruskan karya kakeknya itu. Namun, dari tuturan Badri, ide kakeknya membuat wayang suket bermula dari rasa penasaran.

Berdasarkan laporan Sindhunata dalam katalog “Pameran Wayang Rumput Karya Pak Gepuk dari Bantar Barang, 1-8 September 1995, Bentara Budaya Yogyakarta”, ada kisah dari Mbah Gepuk. Dulu, Singadirana—kakek Mbah Gepuk, pernah bilang jika wayang bisa dibuat dari suket. Kendati berkata demikian, Singadirana sendiri tidak bisa membuat wayang dari suket. Kemudian, ketika Mbah Gepuk bermain suket, hatinya bertanya-tanya, bisakah ia membuat wayang dari suket? Nyatanya, dari olah tangannya, ia berhasil membuat wayang suket. Ia terkejut, tak menyangka bisa menghasilkan suatu karya tanpa diajarkan oleh siapapun.

Wayang Gatotkaca merupakan salah satu wayang buatan Mbah Gepuk yang Badri simpan. Wayang itu dibuat tahun 1993. Badri memasukkan wayang itu ke dalam bingkai berlatar merah dan dipajang di dinding ruang tamu di rumahnya. Warnanya sudah berubah jadi cokelat. Di dalam bingkai, nama Kasanwikrama Tunut merekat pada sehelai kertas putih di samping wayang. Kondisi fisik dari wayang itu pun masih terawat.

Badri berujar, membuat wayang suket bukanlah aktivitas rutin yang dilakukan kakeknya. Kakeknya membuat wayang hanya ketika ia ingin membuatnya. Dalam seminggu kadang ia hanya membuat dua atau tiga wayang. Akan tetapi, selepas ada seorang wartawan—yang juga budayawan—meliput hasil karyanya, ia mulai aktif membuat wayang suket. Selama hidup, setidaknya Mbah Gepuk sudah dua kali mengikuti pameran, di Yogyakarta pada 1995 dan di Jakarta pada 1997. Pada umur 97 tahun, Mbah Gepuk tutup usia. Kepandaian menganyam suket menjadi wayang dengan tidak sengaja terwariskan dalam diri Badri.

Perkara Hak Cipta

Badriyanto mulai berkisah soal pengalamannya. Ia pertama kali menerima pesanan wayang suket di tahun 1997. Pada tahun itu, seorang laki-laki pernah menemui Badri untuk memesan wayang suket bikinannya. Lama kemudian, pada 2014, laki-laki itu datang lagi untuk memesan wayang. Ia juga minta diajarkan cara membuat wayang suket. Badri pun mengajarinya. Rupanya, laki-laki yang datang kepadanya tempo itu adalah anggota dari sebuah komunitas wayang suket. Badri mengetahui hal tersebut dari temannya. Ketika Badri membuka laman komunitas tersebut, ia melihat foto wayang suket bikinannya dipajang tanpa mencantumkan namanya ataupun nama kakeknya. Badri pun merasa seolah-olah komunitas tersebut mengaku-ngaku bahwa wayang suket itu adalah karya mereka. Badri memang tak kecewa, tetapi ia berharap komunitas tersebut segera sadar atas perilakunya.

Badri mengaku berniat membuat hak cipta atas wayang suketnya. Akan tetapi, Badri masih bingung perihal instansi mana atau siapa yang harus ia datangi, dan bagaimana prosedurnya. Suatu ketika Badri akan mengikuti suatu pameran. Ada seorang pegawai dinas datang ke rumahnya. Ia dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Purbalingga. Badri sempat bertanya kepada pegawai itu mengenai pembuatan hak cipta. Badri pun meminta dibuatkan hak cipta untuk wayang suketnya. Namun, sampai saat ini belum ada kelanjutan ataupun kabar mengenai permintaannya.

Berbicara mengenai hak cipta, sudah ada regulasi yang mengaturnya. Ialah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Dalam pasal 1 ayat 1 aturan tadi menyebutkan bahwa “Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Untuk mengetahui lebih lanjut soal hak cipta, Skëtsa pun menemui salah satu dosen Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr. Raditya Permana, S.H., M.Hum. Ia adalah pengajar Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Ia juga mengajar HKI di fakultas lain seperti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed. Ia menjelaskan bahwa perlindungan hukum atas hak cipta sudah ada ketika suatu karya sudah berwujud. Pendaftaran hak cipta hanya bersifat administratif. Menurutnya, sertifikat hak cipta akan berguna untuk mempermudah penyelesaian sengketa hak cipta di pengadilan niaga. Sebab kebanyakan pada kasus sengketa hak cipta, biasanya dimenangkan oleh pihak yang mempunyai sertifikat tersebut. Para penegak hukum masih beranggapan bahwa seseorang baru bisa dikatakan terbukti memiliki hak cipta atas suatu karya tertentu apabila mampu menunjukkan sertifikat hak cipta.

Namun menurut Radit, pemahaman seperti itu adalah keliru. Ia menegaskan sekali lagi bahwa sertifikat hak cipta sifatnya hanya administratif, bukan untuk mendapatkan perlindungan hukum ataupun sebagai bukti. Untuk membuktikan seseorang adalah pencipta dari suatu karya tertentu, menurut Radit caranya sederhana. Logikanya, orang yang memiliki hak cipta atas suatu karya pasti memiliki pengetahuan tentang karya tersebut. Pengetahuan itu hanya diketahui oleh dirinya sebagai pencipta atau keluarganya sebagai ahli waris. Jadi, pembuktian mengenai hak cipta bukanlah melalui sertifikat.

“Walaupun punya sertifikat, (jika) suatu saat nanti ada yang gugat, ya kita harus tetap bisa membuktikan (karya milik kita). Jadi tidak semata-mata, ada sertifikat (hak cipta) terus urusannya beres. Enggak. Dia juga harus bisa membuktikan,” tutur Radit saat ditemui di kantornya di Fakultas Hukum, Senin (3/7).

Kesimpulannya, Radit menyarankan lebih baik wayang suket itu didaftarkan hak ciptanya. Lebih lanjut, ia pun mengusulkan yang dihak-ciptakan itu bukan wayang suketnya, tetapi teknik pembuatannya: teknik menganyam pada wayang suket. Pendaftaran hak cipta bisa melalui Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual di Jakarta Selatan, atau Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang tersebar di seluruh Indonesia, ataupun bisa melalui Kuasa Hukum Konsultan HKI terdaftar.

Dari Wlahar, Bantarbarang, Hingga Amerika Serikat

Suatu kali, Badriyanto pernah melihat kakeknya dikerumuni orang-orang. Rupanya, orang-orang itu sedang melihat Mbah Gepuk membuat wayang sambil bercerita.

“Mbah Gepuk tahu semua cerita. Dari anak-anak sampai orang tua mendengarkan. Dari zaman Belanda, cerita apa aja dia tahu,” kenang Badriyanto.

Awalnya, Mbah Gepuk tidak mempunyai niat untuk menjual wayang suketnya. Tetapi, ketika ia mulai menua, ia mulai berpikir ke arah sana. Saat ia suah berumur delapan puluhan tahun, ia mulai menjajakan wayang-wayang suket bikinannya. Ia berdagang keliling. Wayangnya juga ia jajakan di pasar tradisional dengan harga Rp1.500. Seorang pemuda dari desa Bantarbarang melihat wayang Mbah Gepuk dengan antusias. Namanya adalah Ikhsanudin. Pemuda itu menginginkan Wayang Gepuk. Sayangnya, Rp1.500 baginya merupakan uang yang cukup besar kala itu. Karena ia tidak mampu membeli, maka ia bertekad akan membuatnya di suatu hari nanti.

Ikhsan lulus SMA pada 1997. Waktu itu, pascapameran di Yogyakarta, Mbah Gepuk seringkali membagikan katalog Wayang Gepuk ke masyarakat sekitar. Lantas, Ikhsan memperoleh katalog itu. Sejak kecil Ikhsan mengagumi sosok Mbah Gepuk. Namun, ia segan jika harus belajar langsung kepada Mbah Gepuk. Dari foto-foto Wayang Gepuk di katalog itulah, ia belajar menganyam Wayang Gepuk secara autodidak.

Akhirnya, ia bisa membuat sendiri wayang suket, meski tidak sebagus hasil olahtangan Mbah Gepuk. Dan suket yang digunakan juga bukan suket kasuran, tetapi suket biasa yang gampang diperoleh. Suket kasuran langka.

“Kalau Badri kan pakai rumput kasuran yang ditanamnya sendiri. Saya enggak pakai rumput itu. Makanya saya hanya pakai rumput-rumput seadanya di pinggir jalan atau ladang,” terang Ikhsan saat ditemui di rumahnya pada Kamis sore (22/6).

Di desanya, ia dikenal sebagai seniman pinggiran. Ikhsan Yoso, ia kerap dipanggil demikian. Selain mengayam wayang suket, ia juga melukis dan menggambar. Foto karya-karya buatannya ia unggah ke akun media sosialnya. Dari situ, seorang dosen asal University of South Carolina, Amerika Serikat, mengontaknya lantaran tertarik pada wayangnya. Geoffrey Cormier namanya. Bahkan, Cormier sampai bertandang ke rumah Ikhsan dan Badri pada awal Februari 2013. Cormier juga meminta dikirimkan wayang suket untuk dipertunjukkan dalam sebuah pameran boneka. Ikhsan mengaku saat itulah terakhir kali ia menerima pesanan wayang suket.

Berbicara soal peminat, Badri mengatakan bahwa peminat wayang suket terdiri dari dua jenis, yaitu pebisnis dan penikmat seni. Ia mengaku mengalami kesulitan dan minder jika yang ia hadapi adalah pebisnis. Wayang suketnya sering ditawar murah oleh para pebisnis. Sedangkan jika yang memesan adalah penikmat seni, Badri tak akan pusing memasang harga. Berapa pun harga yang ia pasang, pembeli jenis ini tetap akan mengambil wayangnya.

Wayang Gepuk, Panggung Pameran, dan Kelesuan

Badri mengaku Wayang Gepuk tidak mengalami perkembangan yang hebat. Perkembangannya terbilang lesu. Eksistensinya hanya ada di pameran. Setelah mengikuti pameran di Yogyakarta, wayang suket Badri sering mengikuti pameran-pameran lain di Jakarta. Malahan, wayang Badri dan Ikhsan pernah menampang di pameran National Day of Puppetry pada 2012 lalu.

Ketika dipamerkan, biasanya ada yang memesan. Jika tidak ada pameran, Wayang Gepuk mungkin akan semakin hilang eksistensinya. Apalagi tidak ada perajin Wayang Gepuk selain Badri dan Ikhsan. Kalau keadaan tetap demikian, lambat laun wayang ini bisa punah. Badri pun terkendala ketersediaan suket kasuran. Jika ada pemesan ketika suket kasuran belum panen, Badri biasanya akan menanyakan kesediaan pemesannya untuk menunggu suket panen. Nyatanya, meskipun terkendala bahan baku, masih ada pemesan yang setia menunggu.

Menurut Badri, Wayang Gepuk harus tetap dilestarikan karena merupakan kebudayaan khas Purbalingga. Pemerintah daerah juga sudah mengakuinya. Namun, sekedar pengakuan dari Pemda dirasa tidak terlalu solutif untuk menjaga wayang ini tetap eksis. Wayang suket Badri hanya menjadi pajangan di museum atau ruang-ruang pameran. Jika banyak yang bisa membikin Wayang Gepuk, mungkin perkembangannya bisa lebih baik lagi ketimbang sekarang.

 

Reporter: Aziz Dwi Apriyanto dan Dara Nuzzul Ramadhan.
Editor: Emerald Magma Audha

 

 

Catatan Redaksi:
Tulisan ini dimuat ulang dari Majalah Sketsa Edisi 35 Tahun XXIX Oktober 2017 bertema “Meraba Pemilihan Rektor” pada Rubrik Seni Budaya.