Banyak Masalah, KPR: Pemira Soedirman Sukses !

Pemira Soedirman

KPR Pemira Soedirman

PURWOKERTO-Setelah hasil Pemira Soedirman 2014 ditetapkan, tugas Komisi Pemilihan Raya (KPR) BEM Unsoed 2014 terkait Pemira telah usai. Meski sempat dihadapkan pada masalah pelanggaran-pelanggaran, berita tentang ketidakbecusan KPR dalam menyelesaikan masalah pamflet, lemahnya sosialisasi, dan isu-isu terkait black campaign (kampanye gelap), Ihsan, Ketua KPR, mengklaim bahwa Pemira Soedirman 2014 sudah sukses dan  lebih baik dari Pemira sebelumnya.

Klaim tersebut bukan tanpa alasan, sebab partisipasi pemilih pada tahun ini melebihi target serta meningkat tajam secara kuantitas. “Tahun kemarin hanya 4.300-an pemilih, “ tapi sekarang ada 6.700 lebih sedangkan targetnya itu hanya enam ribu", ungkap Ihsan kepada Sketsa.

Pelanggaran Tak Terselesaikan

Menurut data KPR, sebenarnya banyak tercium indikasi pelanggaran dari kedua pasangan capres dan cawapres peserta Pemira. Sebagai contoh, ketidakhadiran “Gilas” (Ragil-Andreas), pasangan nomor urut 2, pada kegiatan kampanye di kampus Keperawatan dan kampus Kedokteran, yang menyebabkan meraka dikenai pengurangan sebesar 5% (sekitar 130 suara) dari total suara sah pemilih mereka.

Kasus itu merupakan kasus yang terlihat. Sebenarnya banyak kasus lain yang terkait yang diakui oleh KPR sangat sulit dibuktikan. Kedua pasangan calon sama-sama melaporkan kasus tentang black campaign dan illegal campaign. Namun, saat keduanya dikonfrontasikan, kedua belah pihak saling cuci tangan dengan dalih hal itu bukan dari tim sukses mereka. Rekomendasi dari Ihsan, untuk KPR yang akan datang harus lebih ketat terkait regulasi, misalnya dengan identifikasi alat bantu kampanye dengan stampel KPR

Sketsa mendapati beberapa mahasiswa suatu fakultas yang sama sekali tidak mengerti cara mencoblos. Setelah diselidiki, ternyata sosialisasi tentang Pemira Soedirman memang sangat minim. Bahkan, pamflet terkait cara penyoblosan ditempel di kampus-kampus baru dilakukan H-1 Pemira.

Saat ditanya tentang sistem sosialisasi KPR, Ihsan mengakui adanya kekurangan itu. “Karena personil KPR terbatas maka ini (sosialisasi terpusat-red) susah dan akhirnya kita (KPR-red) layangkan surat ke BEM-BEM Fakultas namun tidak ada follow up dari mereka” kilah Ihsan. Terkait sosialisasi di jejaring sosial, sangat jelas terpantau bahwa akun Twitter resmi Pemira Unsoed @pemirasoedirman sangatlah intens untuk selalu mensosialisasikan Pemira. “Kalau di sosmed kita sangat-sangat intens, namun kan follower Twitter kita terbatas, jadi bagi mereka yang tidak mau tahu tentang isu terkini, mereka tidak tahu,” tambah Ihsan

Berita mengenai buruknya kinerja KPR terkait pembersihan kampus dari alat kampanye Pemira diamini oleh Ihsan. Namun hal tersebut bukan semata-mata kesalahan dari KPR karena yang bertanggung jawab pada hal tersebut adalah tim sukses (timses) peserta Pemira. Tugas KPR hanya mengawasi proses pembersihan terkait alat kampanye. Saat ditanya masalah tersebut sudah selesai atau belum, Ihsan merespon, “Belum, belum selesai karena (alat kampanye-red) dari keduanya (pasangan calon) masih ada di beberapa tempat”. (Nurhidayat)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.