Anomali dan Krisis Identitas Sosial Budaya Lokal Purwokerto

Suasana Diskusi Manusia Merdeka. Foto: Rachma Amalia

Suasana Diskusi Manusia Merdeka. Foto: Rachma Amalia

PURWOKERTO–“Bahasa Banyumas seperti barang langka, takut hilang, tapi dikerangkeng,” celoteh Arizal Mutahir, M.A., salah satu pembicara dalam diskusi publik “Manusia Merdeka” yang bertempat di Aula FISIP Unsoed, Minggu (21/9). Menurut Arizal, ungkapan tersebut mewakili keadaan Banyumas, terutama Kota Purwokerto, yang kini tengah mengalami krisis sosial budaya di tanahnya sendiri.

Berdiri sebagai pusat wilayah Karesidenan Banyumas, Purwokerto menjadi tempat yang strategis dan menarik bagi sebagian orang untuk bermigrasi ke kota mendoan ini. Berdirinya sebuah perguruan tinggi negeri-Universitas Jenderal Soedirman, sejak 1963, juga semakin meningkatkan daya tarik masyarakat menuju Purwokerto. Namun, salah satu aset penambah nilai jual Purwokerto dalam bidang pendidikan ini ternyata menjadi bumerang bagi Purwokerto sendiri, menambah andil proses degradasi identitas sosial budaya.

“Adanya kampus, memungkinkan banyak masuknya budaya,” ungkap Haryadi, S.Sos, M.A., dosen Jurusan Sosiologi Unsoed yang juga menjadi pembicara dalam “Manusia Merdeka”. Menurut Haryadi, banyaknya mahasiswa pendatang menjadi salah satu penyebab bergesernya primordialisme yang dimiliki Purwokerto menuju budaya baru. “Mahasiswa pendatang masih kurang terikat dengan budaya lokal Banyumasan,” tambahnya.

Banyak mahasiswa pendatang yang enggan beradaptasi terhadap budaya lokal, seperti adaptasi dalam berbahasa dan bertutur kata “ngapak” layaknya masyarakat lokal Banyumas. Hal itu juga membuat mahasiswa lokal kehilangan identitas dan lebih memilih untuk mengikuti budaya lain, termasuk dalam berbahasa. “Banyumas saat ini sedang mengalami krisis identitas,” tutur Haryadi.

Menurut Arizal, komersialisasi pendidikan juga menjadi faktor tertutupnya ruang dan akses masyarakat lokal Purwokerto. Biaya pendidikan tinggi melahirkan budaya konsumtif dimana orang-orang, termasuk mahasiswa, menjadi lebih individualis. Adanya kost-kostan elit, pembangunan hunian eksklusif, toko-toko modern, dan sejumlah restoran serta café di lingkup kampus, menyebabkan penduduk lokal yang tinggal di area ini tidak punya akses luas terhadap ekonomi wilayahnya sendiri.

Arizal juga berharap kepada Unsoed, sebagai penyedia fasilitas pendidikan di wilayah Banyumas, menjadi ruang negosiasi, tempat multikulturalisme berjalan seimbang dan saling menoleransi. “Sebaiknya kampus menyediakan ruang-ruang untuk mahasiswa bertemu dengan penduduk lokal,” jelas Arizal. (Rachma Amalia)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.