[RESENSI FILM] Niat Mulia Sang Pemasar Narkoba

Oleh: Ahmad Pradhana Adiputra*

Judul film : Deep Web

Sutradara : Alex Winter

Produser : Alex Winter, Glen Zipper, Marc Schiller

Narator : Keanu Reeves

Genre : Dokumenter

Bahasa : Bahasa Inggris

Durasi : 85 Menit

Tanggal rilis : 15 Maret 2015

 

Deep Web menceritakan sebuah situs internet yang sangat fenomenal di jagat raya internet gelap: Silk Road. Silk Road adalah salah satu pasar gelap dalam jaringan (daring) modern yang terdapat dalam deep web, bagian dari internet yang tidak terindeks oleh mesin pencari konvensional laiknya Google, Bing, dan lain-lain. Didirikan pada Februari 2011, Silk Road terus tumbuh menjadi situs yang masif dan penting di dunia perdagangan ilegal. Banyak sekali ragam komoditas yang dijual di Silk Road, 70% dari sekian banyak itu berupa narkoba. Semua transaksi dalam pelayanan situs ini menggunakan mata uang terenkripsi bernama Bitcoin. Bitcoin inilah yang membuat segala transaksi ilegal di sana hampir mustahil untuk dilacak oleh penegak hukum.

Selain menjadi tempat penjual dan pembeli melakukan transaksi tanpa tatap muka, menurut salah satu penjual di Silk Road, situs tersebut juga menjadi tempat diskusi tentang banyak hal, terutama soal politik dan filosofi. Hal tersebut terlihat dari banyaknya kiriman terkait kedua bahasan tersebut di sana. Dikatakan juga bahwa Silk Road adalah tempat berkumpulnya para pemikir.

Jika bicara soal Silk Road, maka tak akan bisa lepas dari sosok Ross Ulbricht, pria asal Austin, Texas, yang merupakan pendiri sekaligus administrator situs Silk Road. Dia adalah seorang insinyur Universitas Pennsylvania di bidang teknik dan sains material lulusan tahun 2009. Namun, setelah lulus, Ross kehilangan hasrat pada bidangnya. Ross berubah haluan, dia malah tertarik dengan Teori Ekonomi Libertarian—Teori Ludwig von Mises. Ross berkeinginan menjadi seorang entrepreneur. Bersama seorang temannya, dia pernah membuka toko buku daring. Namun, ternyata usaha yang baru saja dia rintis tak banyak berbuah hasil. Lalu, dia mencari-cari format wirausaha yang mungkin akan lebih berpeluang mendulang hasil. Sebab usaha toko daringnya yang tak berhasil, ditambah lagi kegagalan hubungannya dengan seorang wanita, Ross merasa tak puas dengan hidupnya.

Ini yang menarik dari Ross: dia tertarik pada jual beli narkoba secara daring. Tingginya angka kematian akibat narkoba seperti di Afghanistan dan Meksiko membuatnya gelisah. Bisnis narkoba yang sangat rawan akan kekerasan bahkan pembunuhan mendorongnya untuk menciptakan Silk Road. Dia ingin mengeliminasi kekerasan dalam dunia transaksi narkoba. Menurutnya, seharusnya tidak ada seorang penjual maupun pembeli yang mati dengan luka tembak di sekujur tubuhnya, dan tidak akan ada lagi opsir polisi yang tewas dalam tugas menumpas narkoba di jalanan. Inilah alasan yang mengejutkan dan mungkin dianggap terlalu naif. Namun, petugas keamanan setempat pun mengamini bahwa kekerasan hingga pembunuhan sangat banyak terjadi dan alasan Ross sangat masuk akal. Dia membuka toko daring narkoba untuk mengurangi kekerasan yang terjadi. Sungguh sebuah niat yang mulia jika dipikirkan lebih jauh.

Menggunakan nama samaran merupakan hal yang wajib dilakukan dalam deep web. Ross pun  memilih Dread Pirate Robert sebagai nama alias. Tidak sembarangan, nama itu adalah nama tokoh fiksi yang dia ambil dari film The Princess Bride yang memiliki makna filosofis dalam. Jika sudah menonton The Princess Bride, pembaca akan mengerti alasan Ross mengambil nama tersebut. Semacam Robin Hood lah….

Ross telah menjalankan Silk Road selama dua tahun (2011-2013) sebelum akhirnya FBI menangkapnya di Perpustakaan Umum San Fransisco pada Oktober 2013. Dia dituduh mengotakutamai situs Silk Road. Ross digugat banyak tuntutan berat meliputi pencucian uang, peretasan komputer, konspirasi dalam perdagangan narkoba, hingga pembunuhan. Namun, tuduhan pembunuhan disingkirkan karena lemahnya bukti. Pada 29 Mei 2015, Ross dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa adanya kemungkinan pembebasan bersyarat. Sekarang, dia menjalani hukuman di penjara Federal Metropolitan New York.

Sutradara Alex Winter mengajak penonton melihat realitas yang ada, tetapi tidak pernah terlihat, tersentuh, bahkan dirasakan kehadirannya oleh masyarakat luas. Di awal film, sang sutradara memberikan penjelasan ringan apa itu deep web, peramban Tor, situs onion (situs bawang merah), bitcoin, dan berbagai macam hal yang berkaitan dengan deep web. Bagian awal film dapat digunakan sebagai bekal para penonton awam untuk menyaksikan film hingga selesai, tanpa meninggalkan kebingungan, bahkan dapat menambah rasa penasaran akan kasus ini.

Selain itu, dikisahkan juga perjuangan Ross untuk lepas dari kasus hukum yang menjeratnya. Ia harus menghadapi proses peradilan yang dirasa tidak adil dan banyak kejanggalan dalam proses hukum seperti ketika ada beberapa saksi dan bukti yang tidak boleh dihadirkan oleh pihak tergugat—Ross. Dukungan untuknya datang dari keluarga, teman, serta aktivis. Ross mencoba untuk lepas dari jerat hukum yang tak masuk akal dan mengada-ada.

Keakuratan film ini ditunjang oleh tulisan Andy Greenberg—wartawan Wired—yang menulis berita tentang Silk Road. Dia bahkan telah berkomunikasi dengan Dread Pirate Robert yang ketika itu belum terungkap identitasnya. Andy telah menulis beberapa artikel tentang Silk Road, salah satunya berjudul The Silk Road’s Dark-Web Dream is Dead. Dalam proses produksi film dokumenter ini, Andy berperan sebagai konsultan produser sekaligus menjadi salah satu sumber utama dalam film dokumenter ini.

Ilustrasi: Marita Dwi Asriyani

Ilustrasi: Marita Dwi Asriyani

Ada hal lain yang menarik dalam kisah ini. Hal ini terlihat semacam paradoks di dalam kasus Silk Road, yakni para agen federal melanggar hukum demi menegakkan hukum. Mereka membobol sistem Silk Road untuk mendapatkan informasi sedetail mungkin untuk menangkap Dread Pirate Robert, sang administrator. Padahal, hal semacam itu (baca: meretas) dilarang keras oleh konstitusi amandemen ke-4 di mana privasi personal sangatlah dijaga dan dilindungi.

Alex Winter menyajikan argumen yang berimbang dengan mewawancarai kedua belah pihak. Winter mewawancarai orang tua Ross, teman-temannya, dan orang-orang yang ingin membantu mengungkap fakta dari kasus Silk Road. Birokrat yang terlibat langsung dengan kasus Silk Road pun dimintai keterangan. Bahkan, keterangan dari penegak hukum pun masuk dalam kisahnya. Tentunya, keterangan narasumber dari kalangan ahli dan wartawan kian memperjelas kisah secara detail dan objektif.

Banyak sekali artikel yang membahas Silk Road. Namun, Winter menjadi orang pertama yang menyatukan seluruh cerita dan mengubahnya ke dalam bentuk audiovisual yang atraktif. Deep Web adalah tontonan yang penting dan mengagumkan. Sebuah film dokumenter yang menarik karena terbukti dapat membawa penonton masuk ke dalam dunia yang diceritakan. Bahkan, film ini secara halus mendorong hasrat penonton untuk lebih ingin tahu dan banyak belajar tentang deep web.

Sutradara Deep Web Alex Winter telah membuktikan bahwa film ini memberikan dorongan halus kepada penonton untuk membayangkan pentingnya privasi di internet di masa mendatang yang akan berdampak pada kehidupan kita. Film dokumenter ini mempunyai ide cerita yang menarik, cerita yang belum banyak diketahui oleh khalayak umum, terutama menyangkut deep web. Guna menambah kesan misterius dari film ini, Alex Winter mengajak partnernya, Keanu Reeves—aktor dalam film Bill & Ted’s Excellent Adventure—untuk menarasikan cerita.

Menurut saya, film ini layak untuk ditonton khalayak karena dapat meluruskan pemahaman yang keliru dan tendensius seputar deep web yang selama ini diyakini oleh masyarakat. Bahkan, film ini berpotensi mengubah persepsi bahwa tidak semua pendiri pasar gelap daring yang ada di deep web mementingkan dirinya sendiri dan kelompoknya. Ross Ulbricht ialah contoh pendiri pasar gelap daring yang memperjuangkan hak privasi—hak setiap individu. Dan di balik tindakannya yang dianggap sebuah kejahatan, ada sebuah niat baik: mengurangi jumlah korban kekerasan dalam transaksi narkoba.

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Biologi  Universitas Jenderal Soedirman angkatan 2016.

 

Catatan Redaksi:
Tulisan ini dimuat ulang dari Majalah Sketsa Edisi 34 Tahun XXVIII April 2017 pada Rubrik Resensi Film.