Integrasi Buku pada ‘Burjo Goban’

Oleh: Lely Zikri Zulhidayah

Suasana Burjo Goban tengah malam. Foto: Lely Zikri Zulhidayah

Suasana Burjo Goban tengah malam. Foto: Lely Zikri Zulhidayah

Buku tertata rapi di dalam rak sederhana. Bau harum bumbu tumis menusuk hidung. Terlihat, hiruk mahasiswa mengumpulkan ide-ide diskusi. ‘Burjo Goban’ sebutan acapnya. Sebuah warung bubur kacang ijo (burjo), yang tidak hanya menjual makanan, namun juga tempat berbagi ilmu. Burjo Goban adalah penjelmaan burjo yang dilengkapi budaya literasi: baca buku dan diskusi. Sucipto dan Belajati Raihan Fahrizi, sepasang sahabat yang juga mahasiswa tingkat akhir Sastra Inggris Unsoed, adalah dalang utama berdirinya perpustakaan yang melengkapi tempat makan murah meriah itu.

Awal Mula Perpustakaan Burjo Goban

Sucipto mengungkapkan bahwa kebiasaan pemilik warung Burjo menjadi salah satu yang menginspirasinya, “Kita dulu sering nongkrong di sini, ketemunya di sini. Ngomongin skripsi jadi sering ngumpul. Sering ke sini ngobrol panjang lebar. Ternyata aa (panggilan untuk pemilik burjo yang memang Sunda-red)-nya juga suka baca, sastra-sastra, (juga) buku motivasi. Awalnya tuh saya kasih buku Kumpulan Cerpen Kompas 2003, (salah satu isinya) Sepi Pun Menari di Tepi Hari, terus aa minta lagi,” ungkapnya.

Awan Herdiawan, sang empunya burjo, menjelaskan awal mula adanya perpustakaan Burjo Goban. Sang pemilik memiliki kegemaran mengonsumsi buku, membuat ia sering meminjam buku. Kebiasaannya meminjam buku, menginspirasi Cipto dan Belajati (BJ: Bi-Jay) untuk menempatkan buku mereka di Burjo Goban. Awan Herdiawan mengatakan salah satu manfaat yang timbul ketika buku-buku terpajang indah di dinding warung burjonya adalah terciptanya interaksi, “Dulu nggak ada interaksi, makan ya makan aja, selesai makan ya pulang. Tapi, setelah ada ini (perpustakaan), ada komunikasi, ada diskusi, terus orang jadi saling mengenal lah sesama pengunjung burjo ini,” akunya.

Pengunjung Burjo Goban

Warung burjo yang diambil dari nama karakter pahlawan Era 90-an Jepang (Gaban) ini, membuat tertarik para aktivis kampus, salah satunya Adhyatma Riyanto, Menteri Sosial dan Politik (Mensospol) BEM Unsoed, yang secara kebetulan memang sedang berkunjung. Menurutnya, Burjo Goban adalah sebuah pilihan tempat berkumpul, “Ini sebenernya alternatif, alternatif tongkrongan ketika di tongkrongan lain tuh hal-hal yang diomongan kalau nggak kehidupan, pacaran, terus kehidupan hedonistislah gitu, ketika di sini, obrolannya adalah obrolan yang jarang kita dengar dari mahasiswa sekarang, ngomongin masalah konsep, gagasan, kemudian ngomongin strategi, metode,” ungkapnya. Presiden BEM Unsoed Abdullah Muhammad Ihsan pun pernah meminjam salah satu buku di Burjo Goban.

Burjo yang mulai memajang buku-buku pada April silam ini pun sempat didatangi oleh Pecandu Buku, sebuah komunitas nasional yang dipelopori oleh Fiersa Besari, “Di Purwokerto tuh ternyata ada Pecandu Buku Purwokerto, sempat main ke sini, terus ngobrol-ngobrol, terus mereka juga sempat minjem buku tapi rencananya mereka juga mau naro beberapa buku juga,” ujar Sucipto.

Pengunjung yang ingin menambah wawasan dengan membaca buku, dapat dengan mudah meminjamnya. Membaca buku di Burjo Goban, tidak dikenai biaya sepeser pun. Jika meminjam dengan membawa pulang buku, maka pengunjung juga harus mengisi catatan peminjaman buku dan menyimpan sementara buku kepunyaannya. Buku yang disimpan, disebut ‘buku jaminan’. Buku jaminan tersimpan rapih dalam rak yang berbeda dengan buku lainnya dan dilarang untuk dibawa pulang oleh pengunjung lain.

Kebiasaan Baca Pemilik Burjo

Bukan hanya pengunjung yang suka berdiskusi dan membaca, sang pemilik pun turut andil di dalamnya. Pemilik burjo yang tidak menjual bubur kacang hijau ini mengungkapkan bahwa buku Pesan-Pesan Islam dan Harus Bisa SBY merupakan beberapa judul buku yang ia suka, “Agus Salim, saya lebih senang ke tentang Pesan-Pesan Islam. Nah itu satu, yang kedua buku jaminan Harus Bisa SBY,” ungkapnya. Seorang pemilik warung burjo yang sempat menghabiskan sembilan tahun masa mudanya di negeri jiran Malaysia ini juga bercerita tentang penyambangannya ke taman bacaan terbuka di Malaysia, yang dapat dinikmati oleh siapa saja, serta perbedaan kondisi dengan taman bacaan di Indonesia yang sulit diakses oleh orang kebanyakan. Pemilik burjo yang pernah bekerja di sebuah gudang media Femina Group ini juga sangat menyukai buku motivasi, politik, dan agama.

Burjo Goban Kelak

Tidak hanya buku dan diskusi spontan, rencananya Burjo Goban akan mengadakan diskusi terarah, “Rencananya mau bikin diskusi, diskusi fisik cuman belom terlaksana, ini karena saya mau pulang. Pembicaranya kita mau ngundang dosen juga. Dosen yang menurut kita kompeten,” aku Sucipto.

Manfaat yang timbul dari adanya Burjo Goban menjadikan warung burjo tersebut sangat sayang jika tidak dilanggengkan. Adhyatma Riyanto mengungkapkan harapannya bahwa Burjo Goban harus selalu hidup, “Tempat-tempat seperti ini harus dikembangkan, harus dilestarikan lah. Ibaratnya, (harus ada) di tengah-tengah kehidupan mahasiswa yang sangat teralienasi dari fungsinya,” ungkapnya.

Tim Liputan: Lely Zikri Zulhidayah dan Nurul Khasanah

Catatan Redaksi: Artikel ini dimuat ulang dari Buletin Infosketsa Edisi Juli 2016 agar bisa terbaca oleh Anda yang terhubung ke internet.