Ahmad Tohari: Saya Berpolitik dalam Karya Sastra

Dari redaksi

Ahmad Tohari, budayawan asal Banyumas, saat ditemui di acara pergantian tahun di Cilongok (31/12/2018). Foto: Yoga Iswara Rudita Muhammad.

Oleh: Mukti Palupi

Ahmad Tohari terbilang tua. Pria kelahiran 13 Juni 1948 ini identik dengan karya-karya yang selalu mengangkat tema lokalitas. Berbagai penghargaan telah diraihnya, mulai dari nasional sampai tingkat ASEAN.

Trilogi terkenal Rongggeng Dukuh Paruk membuat namanya ikut melambung. Buku ini, diadaptasi ke dalam film “Darah dan Mahkota Ronggeng” (1983) dan “Sang Penari” (2011). Buku yang kental akan nuansa kebudayaan, ideologi, spiritual, hingga kisah asmara ini juga diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, diantaranya Inggris, Mandarin, Jepang, Belanda, dan Jerman.

Kendati sudah menginjak usia 70 tahun, ia masih aktif di dunia kesusasteraan. Terakhir, Tohari menerbitkan buku Sastra Itu Sederhana. Selain itu, ia pun sedang mengasuh majalah Ancas, sebuah majalah berlanggam Banyumasan. Pada Juni lalu, ia diberi apresiasi berupa pembangunan Taman Sastra Ahmad Tohari di Agro Karang Panginyongan, Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Kamis (18/10), kami berkesempatan untuk menemui Ahmad Tohari di kantor Ancas, di Pancurawis, Purwokerto. Ia membagi perspektifnya seputar sastra dan tahun politik. Berikut petikan wawancara kami dengan Ahmad Tohari.

Sejak kapan Tohari mengenal sastra?

Saya kira itu nanti dulu. Tapi begini dulu, sastra itu berperan sangat penting untuk perkembangan jiwa manusia secara pribadi maupun secara masyarakat komunal. Jadi, sastra itu memberikan pendidikan tentang humaniora, tentang manusia. Dan kita juga sebetulnya sudah belajar nilai-nilai kehidupan, yaitu sastra sejak berabad-abad yang lalu. Orang Jawa khususnya belajar etika sosial dari sastra yang namanya Mahabharata dan Ramayana.

Ketika kamu selesai baca Ronggeng Dukuh Paruk, kamu terpikir masalah peri kemanusiaan, keadilan, belas kasih, lalu keperwiraan seperti Rasus itu, betul? Tapi, yang tidak baca sastra, kepalanya isi apa?

Anak-anak sekarang itu, dalam penelitian, anak-anak tamatan SMA di Indonesia membaca kurang dari 1 novel in average, rata-rata. Padahal Malaysia itu 16 (buku), Singapura 18 (buku), Jepang 25 (buku), Amerika 32 (buku), Indonesia kurang dari 1 (buku), setamat SMA. Artinya, ada yang (mengonsumsi) 1,2, (atau) 3 buku, tetapi ada yang tidak sama sekali.

Jadi, pantas betul kalau di Indonesia nilai-nilai kemanusiaan merosot. Membunuh enak saja si suporter Persija itu, korupsi tidak malu, LGBT tidak malu, karena tidak ada alat untuk merasa malu di kepalanya, tidak ada nilai. Dan parah betul keadaan generasimu. Parah.

Ya, maunya suruh pintar fisika, matematika, dan lain-lain. Aku jagonya fisika. Saya masuk Fakultas Kedokteran. Tapi saya lahap membaca sastra. SMP, umur 15 tahun sudah kehabisan buku yang belum saya baca.

Kamu pernah mendengar Mencari Pencuri Anak Perawan? I Swasta Setahun di Bedahulu? Pahlawan Minahasa? Itu sudah saya lahap ketika SMP. Bahkan Don Quixote De La Mancha sudah saya baca ketika SMP. Itu kegiatan pribadi. Jangan ngandalin guru.

Jadi, sastra sangat penting untuk mengembangkan dua sisi batin manusia, sisi intelektualitas, lalu sisi humaniora. Kemanusiaan, seni, perasaan, sensitivitas itu di sisi kanan. Otak kanan enggak diisi apapun, mau jadi apa kita?

Anak saya itu semua membaca sastra. Tentu saja, karena di rumah saya banjir buku sastra. Padahal anak saya ada yang magister sosiologi, magister manajemen, doktor teknik sipil. Satu lagi, doktor antropologi, sekarang di Jerman. Yang terakhir dokter spesialis. Semua kutu buku sastra.

Milenial susah memperoleh buku. Sekarang, buku mahal. Di perpustakaan juga enggak lengkap.

Memang kerusakan kita sudah sistemik, bahkan falsafik. Masyarakat tidak menganggap sastra itu penting. Lah, yo masyarakatnya sudah kayak gitu, gurunya sudah begitu, sekolahnya begitu, menterinya begitu, mau apa? Anak-anak dibanjiri dengan bacaan sampah di situ. Lah, mau apa? Ancur-ancuran kita.

Saya bertemu Pak Jokowi langsung, “Pak, Indonesia sudah mengalami krisis kesusasteraan.” Bilang revolusi mental bagaimana, wong anak-anak tidak membaca buku sastra. Bacaan sastra itu kan ada orang jahat, kita tidak ingin ikut. Ada orang baik, kita ingin ikut. Ada orang pahlawan, kita ingin tiru, terinspirasi. Lah, kita enggak baca apa-apa. Ngegame saja.

Sejak kapan Anda mengenal sastra?

Saya mengenal sastra sejak amat dini. Percaya (kalau) saya mengenal sastra sebelum sekolah? Dongeng itu sastra. Sastra lisan. Dan anak-anak sekarang, ibu-ibu sekarang, guru-guru sekarang tidak suka mendongeng. Tradisi mendongeng sudah habis. Padahal tradisi dongeng itu langkah pertama menuju literasi sastra.

Dulu, (ada) dongeng kancil, dongeng bawang merah bawang putih. (Saat) saya di langgar, ya, kiainya mendongeng. Dongeng malaikat, dongeng nabi. Kakek saya dongeng wayang. Kakak saya dongeng ini itu, sebelum saya berhadapan dengan teks.

Jadi, ketika teks menyodorkan gambar kancil nyolong timun, ada kancilnya, teks langsung saya lahap dengan penuh kerakusan. Kelas 2 atau kelas 3 SD. Terus begitu. Sekarang parah keadaannya.

Kalau melihat keadaan tadi, masa depan sastra itu ada di pundak siapa?

Ya, jelas di pundak generasi berikutnya. Saya menerima estafet dari Mochtar Lubis, dari ratusan sastrawan yang saya baca karyanya. Ada Sutan Takdir, Chairil Anwar, lah itu saya terima. Sekarang saya sudah 70 tahun, sudah hampir mati lo, ya. Lalu, di bawah itu siapa? Ada Eka Kurniawan, Tere Liye, Asma Nadia, terus ke sana.

Jadi, setiap generasi menanggung, memikul tanggung jawab sastranya sendiri dan silakan memberi warna menurut zamannya. Seperti mungkin digital, sastra digital. Tapi yang benar dong. Masa ecek-ecek yang ditulis, hoaks lagi.

Kemudian bicara soal warna, warna sastra Indonesia sekarang seperti apa?

Kalau saya melihat, sastra Indonesia sekarang itu lebih ke arah melebar. Artinya luas tetapi tidak mendalam. Begini, tidak mendalam itu, tidak mengenai pikiran-pikiran yang besar. Yang menyenangkan saja atau yang menggembirakan saja, seperti sastra populer, tetapi pembacanya banyak. Sementara dulu, zaman saya kan ada idealisme. Jadi, pengin yang bisa memberikan pengkayaan jiwa kepada pembaca.

Jadi, sekarang lebih melebar. Ibarat cor-coran satu ember, kalau zaman saya itu dibikin pilar, jadi masuk ke dalam. Kalau sekarang itu disebar jadi melebar. Lalu, lebih ke arah pragmatis, tanpa idealisme. Sing penting payu, sing penting ana penerbit yang menerima. Lalu, menjual atau diterbitkan sejenis, sing penting payu, bagaimana selera pasar. Apakah itu salah? Ya, tidak (salah).

Jadi, orang menulis itu diniati cari uang banget gitu. Saya pernah ngeri, dan kaget ketika seorang penulis muda mengatakan,“Bagi saya menulis itu setiap kata harus jadi uang.” Haduh, ya haknya dia, tetapi saya ngeri.

Kalau saya ideal, bukan berarti menolak honorarium. Bagi saya yang terpenting pikiran-pikiran saya dalam karya itu dibaca orang dan dimamah oleh orang. Makanya, ketika Ronggeng Dukuh Paruk dibajak (secara) fisik, lalu dibajak di internet, saya tidak marah. Padahal itu mengurangi honorarium saya. Itu dijual cuma 25 ribu. Di Jogja, di Purwokerto pernah dijual itu, padahal harga resmi 70 ribu.

Sudahlah. Silakan baca, silakan bajak silakan baca. Aku ora olih honor ora papa, sing penting kunyah pikiran saya dari situ. Ideal banget itu, karena saya mengingat masa lalu. Lo, sing ngarang cerita wayang siapa? Honornya kemana?

Misal, lagu Jawa yang gending-gending itu kan ada penciptanya. Kok enggak dapat honor, kok mereka enggak berontak, enggak macam-macam. Lah, saya mau tiru mereka. Mereka memperkaya jiwa manusia dan itu ibadahnya, itu baktinya dia kepada masyarakat. Nah, saya mau tiru itu.

Menurut Anda seberapa penting sastra itu tidak berjarak dengan realitas, karena ada yang menganggap kalau sastra harusnya tidak berjarak dengan realitas?

Oh, tidak. Sastra macam-macam. Aliran saya memang aliran realisme namanya. Jadi, memang tidak berjarak. Kelihatan itu ada kemungkinannya terjadi di alam nyata. Ronggeng Dukuh Paruk itu kan memang dari pengalaman peristiwa G30S, itu hal yang nyata. Tetapi saya kemas menjadi teks fiksi. Nah, memang aliran saya itu.

Ada yang sepenuhnya lamunan. Banyak kok. Misal, ceritan-ceritanya Pak Budi Dharma, cerpen-cerpennya itu banyak yang memang surealis. Itu juga bagus juga kok karena teks-teksnya juga kadang mengejutkan jiwa kita. Walaupun itu tidak mungkin terjadi pada alam nyata.

Nah, macam-macam. Jadi ndak papa. Juga ada misalnya FLP (Forum Lingkar Pena), itu kan sastra jilbab, sastra islami. Ya, silakan saja. Silakan kembangkan menurut apa maumu. Nanti masyarakat yang akan menilai. Nah, masyarakat yang menjadi hakim.

Nah ini, Ronggeng Dukuh Paruk terbit pertama sebagai teks tahun ‘81 menjadi cerita bersambung di Kompas. Lalu, dicetak menjadi buku tahun 1982. Itu cetakan pertama. Cetakan terbaru itu 2018. Kemarin masih cetak ulang.

Artinya dari ‘82 sampai 2018, itu 36 tahun. Padahal pernah satu tahun dicetak tiga kali. Itu buku sastra yang tidak populer, tetapi hidup 36 tahun. Sampai saat ini masih di cetak ulang. Artinya apa, itu benar-benar dinikmati oleh masyarakat. Saya mendapat dampak, menjadi terkenal saya. Ampun saya terkenal banget. Itu data saya di situ, di mana-mana.

Itu sastra, dan Jokowi baca sastra saya. Ketemu saya, “Mana karya yang baru? Saya baca Ronggeng ketika saya jadi walikota di Solo.” Artinya apa, sastra penting. Kamu percaya enggak, tidak ada presiden Amerika Serikat tidak membaca Uncle Tom’s Cabin. Tidak ada perdana menteri Inggris tidak membaca Shakespeare. Nah, di Indonesia tidak ada bupati membaca Ronggeng Dukuh Paruk. Tidak ada. Kecuali Jokowi.

Bagaimana Anda sebagai seorang sastrawan memandang orisinalitas? Karena apa yang kita kerjakan pernah juga dikerjakan oleh orang lain.

Betul. Jadi orang enggak usah sok origin. Saya ini dicetak oleh sekian puluh sastrawan yang karyanya saya baca. Mengerti? Ngomong asli, apane yang asli, gitu lo.

Kalau kamu sempat beli, baca namanya The Tortilla Flat atau dataran tortilla (oleh) John Steinbeck. Lalu, baca Ronggeng Dukuh Paruk, akan terasa nuansa yang sama. Akan terasa gayanya akan mirip-mirip. Apa itu plagiat? Ya, sama sekali tidak. Sama sekali tidak karena Tortila Flat terjadi di Amerika, Pantai Barat. Ini terjadi di Dukuh Paruk. Namanya lain, tetapi gayanya sama. Terutama gaya soal kemiskinan dan kepornoan.

Gaya bahasa saya itu, kalau kamu baca Mochtar Lubis, kalimatnya pendek-pendek, sangat nalar, sangat logis, dan mempertimbangkan irama. Kadang saya meniru Chairil Anwar. Chairil Anwar kalimatnya gagah. Tetapi, kadang-kadang saya meniru si penyair Sumatera Timur yang sangat halus lembut bahasanya, Buya Hamka.

Nah, saya murid mereka, kenapa? Orisinalitas tahi kucing. Ndak ada. Di bawah langit itu enggak ada sesuatu yang baru. Peribahasanya begitu. Jadi, begitulah kesusasteraan. Tapi jangan nyontek, jangan plagiat dong. Plagiat itu kalimat-kalimatnya sama, jalan ceritanya sama, ya, plagiat kalau itu. Pekerjaan busuk.

Banyak yang bilang bahwa karya Anda mengangkat lokalitas. Itu kenapa? Ada sesuatu di balik itukah?

Ya, saya kira itu pengalaman hidup saya. Jadi saya sangat akrab dengan masa anak-anak saya yang tentu saja lokalitas banget. Lokal banget. Padang gembalaan, lumpur sawah, belalang. Nah, itu memang pengalaman hidup saya saat anak-anak. Itu muncul kembali ketika saya menulis, satu.

Yang kedua, saya santri. Itu tanaman, itu binatang, itu bahkan tahi sapi, ya milik Allah. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardh. Itu capung, itu milik Allah lo, ya. Sadar enggak kamu? Siapa yang menggerakan capung itu? Nah, sadarkan pembaca.

Jadi, ketika saya melukiskan latar alam yang sangat detail itu karena saya sedang memuji Allah. Bedakan dengan pengarang yang ateis.

Jadi, tulisan Anda itu kejadian nyata?

Bukan begitu. Berangkat atau terinspirasi oleh kejadian nyata. Yang benar begitu.

Seperti misal tempat-tempatnya?

Ya, saya ganti namanya, misal Ronggeng Dukuh Paruk. Ada desa yang menginspirasi itu, (tetapi) bukan Dukuh Paruk namanya, itu nama fiksi. Walaupun akhirnya saya tahu ada (desa) namanya Dukuh Paruk, itu nyata adanya. Saya kaget betul.

Setelah buku ini terbit 30 tahun lamanya, ada anak datang ke tempat saya, “Pak, saya Nahrowi,” atau siapa, saya lupa namanya,“dari Dukuh Paruk.”

Hish mas, Dukuh Paruk nama fiksi.”

Tidak, saya orang Dukuh Paruk, ini KTP saya.”

Ada itu di Batang, Jawa Tengah, lalu kecamatannya Subah. Ampun, saya itu geleng-geleng. Padahal saya bikin nama yang aneh supaya tidak ada di alam nyata, eh, ternyata ada. Dia juga pengin ngecek ke sini, “Apakah yang dimaksud oleh bapak itu dukuh saya?” Padahal bukan lo. Tetapi baru kemarin, belum lama.

Bicara tentang Ronggeng Dukuh Paruk, belakangan ini komunisme sedang ramai. Apalagi berkaitan dengan tahun-tahun politik. Menurut Anda bagaimana?

Jadi, pada pra-‘66, Partai Komunis Indonesia ini partai legal. Partai yang sah. Dibubarkan pada tahun ‘66 karena peristiwa ‘65. Jadi, saya melihat dari aspek kemanusiaan, bukan dari aspek politik.

Yang saya sangat sedih adalah orang-orang PKI atau yang dianggap PKI dibunuhi dengan sangat kejam. Saya memberontak. Walaupun saya orang NU. Kenapa harus dibunuh seperti itu?

Walaupun saya SMA kelas sebelas, sudah nonton orang dibunuh. Peristiwa pembunuhan atau eksekusi itu luar biasa kejamnya, hanya bisa dibandingkan dengan kekejaman NAZI. Makannya saya ndak nonton “The Act of Killing”. Saya enggak mau. Pasti kalah dengan apa yang saya lihat secara nyata.

Film itu kan rekayasa, saya melihat yang nyata. Gila. Indonesia gila. Jadi, saya atas nama kemanusiaan saya seperti memberikan simpati kepada orang-orang komunis yang dibunuh tanpa pengadilan. Atas nama kemanusiaan, bukan atas nama komunis, orang saya orang NU kok. Walaupun saya tetap dituduh PKI oleh tentara.

Saya kan dipanggil oleh kamtib. Pernah dipanggil ke sana. Ya, tentara ingin tahu apakah saya PKI apa bukan sih. Sampai diinterogasi 5 hari saya di sana. Dengan perlakuan yang seperti apa? Waktu itu saya sudah pegang kartu pers, jadi enggak begitu. Kalau saya orang tidak pegang kartu pers, mungkin ….

Anda berpolitik untuk sastra atau bersatsra untuk politik?

Saya orang yang tidak percaya kepada semua partai, saat ini. Makanya saya nanti pemilu tidak akan memilih legislatif. Tidak. Saya hanya akan memilih presiden saja. Jadi, kalau begitu saya berpolitik dalam karya sastra. Itu dari softpolitics. Politik untuk kemanusiaan, politik untuk keadilan, bukan politik untuk mencari kuasa dan untuk mencari duit. Jelas, ya?

Reporter: Mukti Palupi dan Yoga Iswara Rudita Muhammad.

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda