Malind Anim: Saguku Kau Tebang, Rakyatku Kau Tendang

Dari redaksi
Suasana pascadiskusi film FMN Purwokerto (Foto: Susilo Fathurrokhman)

Suasana pascadiskusi film FMN Purwokerto (Foto: Susilo Fathurrokhman)

Oleh: Ari Mai Masturoh

“Dia bilang mau bangun kampung, tapi perasaan kita, kita tanah kita diinjak,” ungkap Linus Gebze, Ketua Adat Kampung Zanegi, dalam film itu. Film tersebut memperlihatkan kondisi Kampung Zanegi yang teperdaya oleh manisnya janji investor. Mereka termakan iming-iming memajukan kampung, namun yang ada mereka hancur. “Ketika ada investor datang, yang mereka (investor) butuhkan bukanlah warga, tetapi lahan, masyarakat dianggap pengganggu, maka harus disingkirkan,” tutur Uskup Agung Merauke, masih dalam film itu.

“Oh kasihan anak cucu

Tersesat, tersesat dan tidak ada jalan

Oh kasihan anak cucu

Tersesat, tersesat dan tidak ada jalan  Kita tertipu

Melepaskan tanah tempat kita hidup”

Itulah Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan salah satu Warga Kampung Zanegi.

Film dokumenter itu menceritakan   PT Selaras Inti Semesta,   anak usaha   Medco Grup, telah membabat ribuan hektar hutan dan berniat mengonversikan 169.000 hektar dari lahan itu menjadi perkebunan akasia dan eukaliptus. Medco juga mengekspor  chip kayu dan kayu pelet ke berbagai negara untuk bahan bakar industri.   Merauke Integrated Food and Energy Estate  (MIFEE) adalah dalang di balik itu semua. Program yang dikenalkan sebagai krisis pangan Indonesia dan dunia malah menjadi bumerang bagi warganya.

Itu sebagian sinopsis film “Mama Malind su Hilang” yang diputar pada Bedah Film dan Diskusi oleh FMN ranting Unsoed (30/10). Film yang menceritakan kisah imperialisme itu mendapat banyak tanggapan, termasuk solusi untuk mengatasi hal serupa, yang notabene masih banyak terjadi di Indonesia.

Menurut Damar, aktivis Aliansi Gerakan Reforma Agraria Jateng-DIY, masalah Indonesia belumlah selesai, justru masalah pokoknya ada pada rakyat dan negara. Negara seakan menjadi musuh rakyat, “Problem pokok adalah rakyat dan negara, sebagai representasi kekuatan perang imperialisme,” ungkapnya.

Dengan nada tegas dan menahan luapan emosi, Kepala Departemen Organisasi FMN Cabang Purwokerto Ahmad Sucipto mengungkapkan bahwa mahasiswa memiliki permasalahan lain, mahasiswa tak ubah menjadi alat penguat baut-baut imperialisme. “Mahasiswa memiliki masalah pokok, yaitu aksesibilitas, komersialisasi pendidikan, liberalisasi pendidikan dan setelah lulus apakah akan memihak pada rakyat atau malah berpihak kepada imperialisme.”

Menanggapi permasalahan rumit antara rakyat dan negara yang semakin meningkatkan kemelaratan Indonesia, Prof. Imam Santoso mencoba mencari solusi yang kuncinya ada pada pemerintahan, “Ada tiga solusi: menghidupkan kembali komitmen negara, perjuangan politik, dan back to the culture,” terangnya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses oleh pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda