Konstelasi Politik di Mata Praktisi Politik Publik Purwokerto

Dari redaksi
Subagyo, Ketua Komisi B DPRD Banyumas (kiri), Andi Ali (tengah), dan Sri Musitka Rahayu (kanan) saat diskusi, Foto: Supriono

Subagyo, Ketua Komisi B DPRD Banyumas (kiri), Andi Ali (tengah), dan Sri Musitka Rahayu (kanan) saat diskusi, Foto: Supriono

PURWOKERTO-Dinamika politik yang melanda negeri Indonesia sangat menyedot perhatian publik, baik di dalam maupun luar negeri. Tahun ini menjadi tahun politik yang banyak sekali mencatat sejarah baru. Berseberangannya kubu eksekutif dan legislatif menjadi tantangan tersendiri bagi negara yang menganut demokrasi multi partai seperti Indonesia. Hal itu dibahas dalam diskusi bertema “Menakar Masa Depan Indonesia” di Aula FISIP

Kedinamisan politik

“Politik itu selalu dinamis, seperti saat ini kita disuguhkan pendidikan politik yang sangat dinamis, namun kita belum siap akan tontonan yang demikian,” cetus Subagyo, Ketua Komisi B DPRD Banyumas. Subagyo merupakan salah satu pembicara yang diundang dalam acara Pelantikan Presiden BEM FISIP 2014 yang dilanjutkan dengan diskusi bertema “Menakar Masa Depan Indonesia” di Aula FISIP. Acara yang dimoderatori oleh Sri Musitka Rahayu ini juga menghadirkan Andi Ali S. Akbar, Dosen Ilmu Politik Unsoed selaku kalangan akademisi.

“Dinamika nasional ke daerah mengenai produk UU Pilkada tentunya akan berpengaruh terhadap partai berbasis massa,” ujar Andi saat menanggapi pengaruh dinamika politik yang terjadi. Andi juga menerangkan bahwa produk legislasi ke daerah akan tertutup apabila UU Pilkada diterapkan, sementara “partai kader” yang tak berbasis rakyat akan memegang tampuk pimpinan di daerah. Hal yang demikian akan menciptakan corrupted government .

Subagyo menambahkan bahwa negara merupakan milik rakyat, kedaulatan pun milik rakyat. “Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang melibatkan rakyat semasif mungkin,” jelasnya. Subagyo memandang bahwa KMP sedang membangun konstruksi elite poltik yang tidak berlandaskan pada idealisme rakyat. “Libido mereka (KMP) terlalu besar,” tambah pria paruh baya itu.

Andi memberikan argumennya terkait legislatif yang dikuasai sepenuhnya oleh KMP. “Bila bersebrangan nanti akan ada veto, veto dari DPR,” tukasnya. Dosen Ilmu politik tersebut juga menambahkan “Demokrasi modern adalah Demokrasi dengan perwakilan, namun harus universal dan tidak primordial atau pun sektarian,” tutupnya.

Peran serta masyarakat dan pengaruhnya

Perlu diakui bahwa tahun 2014 partisipasi masyarakat terhadap politik meningkat dan masyarakat mulai bersikap rasional. “Fanatisme  masyarakat mulai luntur,” kata Subagyo. Jokowi sebagai peran presiden terpilih juga memberikan feedback dengan pemilihan menteri secara terbuka, sebagai apresiasi Jokowi terhadap pemilihnya.

Sementara Andi Ali juga menerangkan terkait peran serta masyarakat. “Organ politik mendapat pukulan telak dari masyarakat,” papar Andi. Andi menjelaskan bahwa masyarakat begitu bersemangat dalam berpesta demokrasi, sehingga memberikan dampak dalam beberapa hal: lembaga survei yang tak akuntabel akhirnya mendapat sanksi, masyarakat suka rela menyumbang untuk Jokowi semasa kampanye, mengerti akan keberpihakan media, dan civil society pun ikut dievaluasi.

Acara tersebut mengingatkan bahaya laten akan “Birokrasi Patrimonialistik” apabila bisa duduk kembali di kursi pemerintahan. Sayangnya acara tersebut tidak dihadiri salah satu narasumber yakni, Supangkat selaku anggota DPRD dari fraksi Golkar, yang notabene adalah anggota KMP. (Supriono)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda