Ikhtiar Menegakkan Substansi Ospek

Dari redaksi
Suasana Ospek dokumentasi PDD Ospek Ilmu Budaya 2012

Suasana Ospek dokumentasi PDD Ospek Ilmu Budaya 2012

Oleh: Muthia Kusuma Wardhani*

Editor: Nurhidayat

Apa yang muncul di benak Anda saat mendengar kata Ospek, MOS atau orientation day? Jawabannya bisa jadi mengenai masa pengenalan kampus untuk siswa atau mahasiswa baru (Maba) di sebuah sekolah ataupun perguruan tinggi. Akan tetapi, tidak jarang justru bayangan menakutkan dan mengerikanlah yang terlintas. Wajar saja, tiap tahun selalu ada berita negatif perihal Ospek. Mulai dari aksi perpeloncoan senior, pelecehan serta kekerasan fisik, psikologis, dan verbal berupa kata-kata makian yang bertujuan menindas, hingga korban meninggal akibat Ospek. Padahal, bila diteropong dari tujuan dan manfaat Ospek, hal tersebut bagai dua kutub magnet yang berlawanan.

Ospek diadakan untuk membangun karakter Maba sebagai bekal mereka saat benar-benar menjalani kegiatan kampus sehari-hari serta dapat bertahan dalam situasi sulit dan tak terduga saat kuliah. Saat Ospek, Maba dikenalkan dengan kondisi sosial kampus, termasuk kultur kampus yang berbeda dengan SMA. Selain hal itu, kebersamaan sesama Maba saat Ospek juga dapat menumbuhkan solidaritas yang dibutuhkan oleh Maba yang belum saling mengenal.

Kemudian, pertanyaan yang muncul adalah: Apakah Ospek dengan aksi perpeloncoan oleh senior, kekerasan fisik, psikologis, dan verbal serta pelecehan merupakan cara yang cerdas untuk mencapai manfaat Ospek tersebut? Sepertinya sulit untuk diiyakan. Akan tetapi, mengapa hal tersebut selalu terulang setiap tahunnya? Sepertinya, korban jiwa saat Ospek seperti Fikri saat Ospek di ITN Malang tidak serta-merta membelalakan mata kita atas kebobrokan moral pendidikan negeri ini, atau bahkan membuat semakin membudayanya kebiasaan balas dendam terhadap junior.

Tradisi Ospek memang sudah berlangsung lama di Indonesia, tepatnya saat Indonesia masih menjadi negara jajahan Belanda yang menerapkan Politik Etis. Saat itu, Belanda membangun lembaga pendidikan yang pertama, yaitu STOVIA School tot Opleiding van Indische Artsen (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia-sekarang Fakultas Kedokteran UI) di Jakarta dan Technische Hoogescool di Bandung. Pada awalnya sekolah-sekolah tersebut didirikan untuk anak-anak keturunan Belanda. Lambat laun, anak-anak keturunan Tionghoa juga diterima dan pada gilirannya, anak-anak pribumi juga diijinkan untuk mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Kesenjangan pun terjadi karena seolah siswa keturunan Belanda adalah senior dan yang lain adalah junior dengan kelas sosial yang lebih rendah. Hal tersebut membuat sekat-sekat sosial diantara para murid. Murid keturunan Belanda merasa lebih berkuasa dan terhormat dibandingkan terhadap murid lain, terutama murid pribumi. Mereka, para siswa keturunan Belanda, menciptakan permainan-permainan yang mengolok-olok murid pribumi saat penerimaan mahasiswa baru. Hal seperti itulah yang menjadi tradisi yang merupakan warisan bangsa kolonial dan terus di pertahankan sampai sekarang walau dalam bentuk senioritas yang berbeda.

Perlakuan negatif yang terus terulang terhadap Maba menimbulkan reaksi dari pemerintah Indonesia. Hal tersebut sudah diatur dalam keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 38/DIKTI/Kep/2000 Tentang Pengaturan Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Mahasiswa Baru di Perguruan Tinggi yang ditegaskan lagi pada Surat Edaran Dikti No. 3120/D/T/2001 Tentang Pembinaan Kegiatan Kemahasiswaan. Pokok intinya, peserta didik secara konstitusional dilindungi dari hal-hal berupa pelecehan, pemerasan, pemaksaan kehendak, penganiayaan yang mengakibatkan cidera, dan kemungkinan dapat mengakibatkan cacat tubuh dan meninggal dunia akibat pelaksanaan Ospek.

Hal yang paling substansial dari Ospek jelas, yaitu mengenalkan kampus terkait kultur, peraturan, dan prinsip-prinsip akademik. Namun, jika kita menganalisa berjalannya Ospek hal itu tidak lagi berjalan sesuai dengan substansi. Mereka, aktivis Ospek hanya sibuk untuk merapatkan hal metode, prosedur, nama kegiatan, dan hal-hal lain secara teknis, belum menyentuh ranah substansi apalagi ideologi. Rapat berbulan-bulan hanya sebagai EO, bukan sebagai panitia pendidik yang harus mencerdaskan mahasiswa baru. Bahkan, banyak hal yang kadang sangat tidak sesuai dengan kultur akademik, seperti intimidasi sekedar untuk menunjukkan senioritas

Seharusnya, Ospek menanamkan idealisme akademik yang harus mereka laksanakan kelak jika sudah menjadi pelaku pembelajaran. Sedikit sikap idealisme akademik yang harus tertanam misalnya terkait budaya membaca, budaya berpikir logis dan ilmiah, antiplagiarisme, dan lain-lain

Tolok ukur keberhasilan Ospek saat ini hanyalah terkait teknis, acara berjalan lancar, dan ketertiban yang diciptakan. Tentu saja itu adalah pemahaman yang keliru dan harus diluruskan. Jika hal itu dibenarkan, maka yang muncul bukanlah Ospek yang substansial melainkan hanya sekedar euforia tahunan menyambut mahasiswa baru dengan pendekatan senioritas. Keberhasilan Ospek yang lebih komprehensif adalah jika Ospek bisa menanamkan idealisme akademik kepada mahasiswa.

Panitia Ospek sebagai pelaksana kegiatan seharusnya mengerti akan hal itu. Mereka harus sadar diri akan posisinya sebagai penuntun mahasiswa baru, bukan sebagai regulator yang sewenang-wenang. Menciptakan aturan yang tidak dilandaskan akan pengkajian yuridis bisa jadi membuat mereka tidak mengerti apa yang harus dan apa yang jangan mereka lakukan sebagai panitia Ospek. Sebagai akademisi, mahasiswa terutama, yang tidak jarang berkoar-koar antipenindasan, seharusnya aktivis-aktivis Ospek ini jangan sampai melakukan penindasan kepada juniornya. Kita berada di negara hukum, segala sesuatu yang melawan hukum adalah melawan negara dan layak dituntut di muka hukum

*Mahasiswa Sastra Indonesia 2012, Pengurus LPM Sketsa

**Pemimpin Redaksi LPM Sketsa

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda