Unsoed Menjawab Tantangan Nasional

Dari redaksi
Foto: doc. Unsoed

Foto: doc. Unsoed

PURWOKERTO–(7/8)Perkedelaian nasional akhir-akhir ini nampaknya menjadi perhatian nasional, dimana terjadi lonjakan harga yang sangat signifikan sehingga menyebabkan kenaikan harga pula untuk komoditas pangan berbahan baku kedelai seperti kecap, tahu, dan tempe,dikarena produsen kedelai terbesar dunia, AS mengalami penurunan produksi.

Hal ini tentu menyebabkan negara pengimpor kedelai seperti Indonesia harus mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan kedelai. Sehingga perlu diupayakan pemenuh kebutuhan kedelai nasional yang berjumlah 2,2 juta ton ini, dipenuhi dari produksi nasional.

Seolah menjawab tantangan akan pemenuhan kedelai lokal ini, Unsoed (6/8) meluncurkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Bibit Kedelai yang dikepalai oleh Dr.Ir. Poenendi,MS. Dalam kesempatan ini juga Unsoed memperkenalkan sebuah varietas kedelai baru yang telah dikembangkan oleh Ir. Soenarto. MS sejak 1995 yaitu kedelai varietas Slamet dan Sindoro yang memiliki keunggulan toleran terhadap tanah basah, toleran terhadap tanah kering, dan bernutrisi tinggi. Diharapkan dengan kedelai varietas baru ini mampu memenuhi kebutuhan kedelai Banyumas juga kebutuhan nasional.

Pusat penelitian ini adalah bentuk metamorfosis Soybean Research Development Center (SRDC) yang telah dibentuk tahun 1995, dan sempat vakum, ungkap Rektor dalam sambutannya. Sehingga dengan adanya pusat penelitian kedelai ini dapat memenuhi swasembada kedelai nantinya. Tidak hanya memperkenalkan kedelai saja, padi juga diperkenalkan dalam acara ini, yaitu padi Gogo Aromatik yang tentunya memiliki kekhasan tersendiri memiliki aroma wangi dan nasinya pulen, dari segi produktivitaspun padi jenis ini memiliki produksi yang tinggi, dan telah ditanam dan dipanen di Desa Kalisari, Cilongok, Banyumas.

Kedua jenis komoditas ini nantinya diupayakan akan menjadi keunggulan lokal dan terobosan dalam proses produksinya, ketika penanaman padi hanya bisa dilakukan dua kali setahun karena kekurangan air, yang apabila dalam keadan air tersedia bisa ditanam tiga kali,maka satu kali dapat ditanami kedelai varietas Slamet ini. Pengembangan Kedelai dan Padi varietas baru ini tentunya menjawab tantangan isu-isu nasional, dimana swasembada pangan adalah salah satu isu sensitif yang menyangkut pembangunan negara berkembang seperti Indonesia. (Syarif, Fuad)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda