Rusunawa Unsoed Dioperasikan

Dari redaksi

Sejak Juli lalu, bangunan rumah susun di kompleks GOR Susilo Soedarman Unsoed mulai ditempati. Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) yang dibangun khusus untuk mahasiswa baru ini, cukup mendapat antusias dari mahasiswa angkatan 2010 sebagai penghuni perdana rusunawa. Entah mendapat antusias tinggi atau ada tidaknya indikasi “dipaksakan”, dari sekitar 384 mahasiswa PMDK Unsoed yang terdaftar, 260 orang diantaranya memilih tinggal di Rusunawa Unsoed.

Rusunawa Unsoed bagi mahasiswa perempuan ini berdiri lima lantai, dengan tiap lantai memililki 2 lobi, 24 kamar, dengan 8 wc dan kamar mandi. Biaya per kamar per orang Rp 100.000,-, dengan penghuni  4 orang di tiap kamar. Tiap kamar disediakan 4 buah tempat tidur, 4 lemari, meja belajar dan kursi. Di lantai 1 terdapat meja resepsionis yang melayani para penghuni dan pengunjung, kantin, dapur khusus petugas (penghuni dilarang memasak), dan ruang pengelola. Bagi mahasiswa atau tamu laki-laki hanya diperbolehkan berada di lantai 1 rusunawa.

Penghuni Rusunawa Unsoed diharuskan memenuhi beberapa syarat, syarat utama yakni mahasiswa angkatan baru (saat ini mahasiswa angkatan 2010). Mahasiswa yang menjadi target utama rusunawa yakni mahasiswa yang berasal dari luar Kabupaten Banyumas dan terdaftar masuk melalui jalur PMDK. Namun, tidak menutup kesempatan bagi mahasiswa sekitar Kabupaten Banyumas dan berasal dari jalur SPMB Lokal maupun Nasional (SNMPTN) yang ingin tinggal di Rusunawa.

Menurut data yang dihimpun Sketsa, penghuni yang merupakan mahasiswa dari jalur PMDK diwajibkan oleh pihak kampus untuk menempati rusunawa tersebut. Pihak Birokrasi Unsoed memberi surat tentang penempatan kamar di rusunawa, selain itu penawaran kamar ini juga kabarnya dilakukan via telefon kepada orang tua mahasiswa. “Waktu registrasi dikasih surat untuk penempatan kamar, ada tulisan wajibnya juga. Tapi ngga semua temen memilih tinggal disini,” ujar Diania mahasiswi baru jurusan perikanan dan kelautan (JPK).

Perihal wajib tidaknya menempati rusunawa diungkap oleh Drs. Darsono, M, Si selaku Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pemberdayaan Fasilitas Unsoed. “Rumah susun ini dibangun untuk mahasiswa baru, sebagai sarana adaptasi dengan lingkungan pendidikan yang baru. Mahasiswa bebas memilih tempat tinggal, tidak ada pemaksaan disini,” ujar Darsono. Dosen di Fakultas Biologi ini menambahkan bahwa tujuan utama dibangunnya rusunawa untuk memberi rasa nyaman dengan lingkungan baru, sehingga dapat menunjang kegiatan belajar.

Kelonggaran terhadap sistem penghunian tidak wajib rusunawa tidak mulus begitu saja. Seorang mahasiswa baru yang tidak jadi menempati rusunawa, belum mendapat uangnya kembali sejumlah Rp 600.000,- (satu semester) yang dibayarkan diawal perkuliahan, setelah membatalkan penempatan kamarnya. “Temen saya yang ngga jadi tinggal disini, uangnya belum dikembalikan sampai sekarang,” ujar Rosellinia mahasiswi Fakultas Biologi asal Cirebon. Ketidakjelasan pengembalian dana tersebut dapat mengindikasikan status “wajib” bagi mahasiswa baru khususnya PMDK untuk menempati rusunawa.

Bicara tentang fasilitas, gedung yang belum lama rampung dibangun ini, masih perlu berbagai perbaikan dibeberapa titik. Seperti masalah penerangan atau listik, kebersihan air, kebersihan lingkungan, dan sarana kamar mandi. Rusunawa juga sedang dalam proses pengadaan fasilitas untuk menunjang kenyamanan mahasiswa, seperti hotspot dan TV. Rosellinia yang tinggal di lantai lima sempat kecewa ketika fasilitas yang ditawarkan dalam surat tidak sesuai dengan kondisi yang ada. “Di dalam surat tertulis fasilitas minimarket, warnet, dan TV, tapi tenyata nggak ada,” ujar Selli.

Untuk penerangan kamar, lampu yang dijatah tiga buah perkamar terkadang tidak dapat difungsikan. Begitu pula lampu di area akses jalan dari ujung ke ujung di tiap kamar, hanya dipasang selang-seling. Padahal dudukan lampu di eternit telah terpasang rapi, namun hanya dipasangi beberapa lampu saja. Untuk kebersihan kamar mandi masih terlihat kumuh dan kotor, beberapa sudut kamar mandi juga terlihat belum rampung dibentuk. “Kamar mandinya kotor, airnya juga nggak bersih,” kata Mia Mahasiswa Fakultas Pertanian. Kamar mandi delapan ruangan yang terletak di pojok ruangan di tiap lantai ini, juga mengalami masalah kebocoran yang sampai saat ini belum tertanangi, khususnya di lantai dua. Mia menambahkan, penghuni yang tinggal di lantai dua terkadang hijrah untuk mandi ke lantai tiga dan seterusnya, hingga menyebabkan antrian.

Diania mahasiswi asal daerah Kuningan yang tinggal di lantai dua menambahkan bahwa air kamar mandi sedikit keruh. Ia juga pernah menemukan cacing-cacing kecil yang keluar dari kran air, pengalaman ini juga dialami oleh teman-temannya yang lain. Saat dikonfirmasi mengenai hal ini,  Darsono mengungkapkan bahwa masalah air tersebut berasal dari penggalian sumur baru. Dosen Fakultas Biologi yang juga terpilih menjadi Kepala UPT Pemberdayaan Fasilitas ini menambahkan, proses penggalian sumur masih dalam rangka penyempurnaan. Namun untuk sanitasi dan saluran pembuangan, menurut Darsono, telah mengikuti rambu yang berlaku dan tertata secara baik sehingga tidak menyebabkan limbah.

Untuk meningkatkan pemahaman tentang mental dan spiritual, pengelola mengadakan pembinaan agama dua kali dalam sebulan, serta pembinaan sikap dan perilaku. Para aktifis baik BEM, Unit Kegiatan Mahasiswa Pusat, atau organisasi serupa diperbolehkan untuk mengadakan kegiatan di wilayah rusunawa. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan berbagai macam aktifitas kampus yang dapat berguna untuk jaringan pertemanan dan pengembangan emosional mahasiswa baru. Rusunawa juga memiliki sebuah aula yang terdapat di sebelah kiri pintu masuk, yang dapat digunakan untuk seluruh jenis kegiatan yang bersifat positif. (Dyan)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda