BOPP: Masalah Baru

Dari redaksi

Badai angin yang menandakan akan beralihnya Unsoed, entah BLU dalam waktu dekat ini atau BHP sebagai proyek jangka panjang semakin kencang. Tahun 2009 ini, Unsoed sudah berani secara terang-terangan memaksa calonmahasiswa barunya untuk merogoh kocek dalam-dalam demi satu kursi mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman.

Buku petunjuk pendaftaran SPMB lokal S-1 menyediakan pilihan angka (dalam jutaan rupiah) yang disebut Bantuan Operasional Pendidikan dan Pembangunan (selanjutnya disingkat BOPP). Besaran BOPP tersedia mulai level I sampailevel IV.

Tertulis angka yang berbeda pada masing-masing levelnya dan meningkat pada tiap levelnya. Dalam halaman itu juga tertulis “BOPP diperhitungkan dalam proses penerimaan”.

Beberapa kalangan menyebut BOPP sebagai pengganti POM yang kabarnya dibubarkan pada tahun ini. Akan tetapi jika menilik pada mekanismenya. BOPP bisa dianggap lebih terbuka kemahalannya.

Selain itu, kebijakan ini hendaknya membutuhkan koreksi, mengingat banyaknya masalah di kampus jenderal ini,seperti aksi mogok kuliah mahasiswa sastra inggris yang menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap pelayanan pendidikan di kampusnya.

Konon katanya, permasalahan yang ada di sastra inggris terkait penggabungan kelas berawal pada persoalan gaji dosen yang jelas-jelas berupa uang.

Kenyataanini bisa dianggap ironi. Sesudah disahkannya 20% APBN untuk pendidikan, Unsoed justru secara terbuka menyatakan “jual mahal” nya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda