BEM se-Unsoed Menggelar Aksi Menolak Pendidikan Mahal

Dari redaksi

PURWOKERTO-Selasa (31/3) puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM se-UNSOED menggelar aksi menolak dana Bantuan Operasional Pendidikan dan Pembangunan (BOPP) yang telah diberlakukan tahun ini. Aksi yang diawali dari Jalan Soeparno Karangwangkal kemudian berjalan ke barat dengan tujuan akhir gedung Rektorat UNSOED.

Sesampainyadi depan gedung Rektorat UNSOED, para mahasiswa melakukan orasi dan menunjukkan beberapa spanduk yang bertuliskan mengenai penolakan BOPP dan mahalnya pendidikan. Menurut mereka kebijakan mengenai penarikan BOPP merupakan salah satu bentuk komersialisasi pendidikan, yang akhirnya pendidikan hanya tersentuh oleh kalangan berduit saja Korlapaksi, Abi Tawakal mengatakan, “BOPP akan menyulitkan calon mahasiswa untuk masuk universitas ini,  ditambah lagi BOPP merupakan salah satu penentu masuknya calon mahasiswa baru.” Pernyataan yang diungkapkan olehAbi memang tertulis dalam buku petunjuk pendaftaran Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Lokal Universitas Jenderal Soedirman 2009 pada halaman 6 disebutkan BOPP diperhitungakan dalam proses penerimaaan mahasiswa baru.

Ketika ditanyakan mengenai solusi konkret dari penolakanBOPP, mahasiswa fakultas Peternakan UNSOED ini mengatakan bahwa seharusnya dana spp dan dana pendamping sudah cukup untuk operasional dan lainnya.

Bantuan operasional mahasiswa seharusnya tidak bersifat memaksa. “Yang mau memberikan lebih ya berikan lebih, yang tidak punya tidak perlu dipaksakan seperti. Itu,” lanjutnya. Saat ini biaya yang dibebankan mulai dari 2,5 juta hingga 180 juta sesuai fakultas masing-masing. Nampaknya saat ini cap UNSOED sebagai kampus termurah danberkualitas di Indonesia bahkan di dunia sudah luntur.

Dalam aksi itu BEM Keluarga Besar Mahasiswa Unsoed ( BEM KBM Unsoed) dan aliansi BEM se-UNSOED menyatakan beberapa sikapnya yaitu pertama, menolak diberlakukannya kebijakan BOPP di UNSOED.  Kedua, mendesak rektorat dan segenap pengambil kebijakan di Unsoed menerapkan kebijakan yang tidak memberatkan mahasiswa dan menempatkan mahasiswa sebagai objek pemerasan.

Ketiga, menghilangkan segala bentuk komersialisasi pendidikan baik yang ilegal maupun legal di kampus Unsoed. Keempat, rektorat dan segenap jajarannya agar mempunyai visi dan misi yang jelas dalam pengelolaan dan manajemen keuangan di kampus Unsoed, karena selamaini tidak ada kebijakan keuangan yang jelas dan cukup transparan dari kebijakan dan manajemen keuangan di Unsoed.

Sehari sebelumnya, perwakilan Aliansi BEM se-UNSOED sudah melakukan audiensi kepada Rektor,Pembantu Rektor I dan Kepala Biro UNSOED dan menanyakan mengenai  BOPP,landasan hukumnya, manfaat serta penggunaanya, dan bagaimana pertanggungjawabannya. Akan tetapi hasil jawaban yang diberikan oleh pihak birokrat nampaknya tidak memuaskan dan penjelasan mengenai BOPP kurang begitu jelas.

Oleh karena itu, aksi yang diakhiri dengan pelemparan keranda pendidikan simbol matinya hati nurani dan semangat pendidikan kampus rakyat ke kolam samping gedung rektorat Unsoedmengisyaratkan banyak harapan agar UNSOED tidak gegabah dalam mengambil kebijakan dan semangat pendidikan lahir kembali. (Nia)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda