Band Australia Manggung di FISIP

Dari redaksi

PURWOKERTO-Kamis (19/2) lalu puluhan pemuda bertebaran disekitar jalan kampus, mereka menggunakan pakaian serba hitam, dilengkapi accessories seperti gelang, kalung, hingga piercing. Ditambah dengan gaya rambut yang sebagian besar dibuat “berdiri” atau biasa disebut model mohawk dan fauxhawk serta dibubuhi pewarna rambut. Persis seperti rockstar, penampilan yang terkesan lusuh dan sedikit menyeramkanini membuat warga kampus mengalihkan perhatiannya sejenak.

Kelompok yang menamakan dirinya punk-street ini tidak hanya berasal dari Purwokerto , namun gabungan dari beberapa komunitas dibeberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Kroya. Mereka muncul untuk menghadiri acara musik indie yang bertajuk “Sound of Soul”.

Acara musik ini diselenggarakan oleh Heartcorner, sebuah komunitas seni musik dan film di Purwokerto yang bekerjasama dengan Remoef, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa FISIP yang bergerak di bidang musik.

Pertunjukanyang dimulai pukul 16.30 dan bertempat di aula Fisip Unsoed ini diisi oleh band indie asal Australia, Straight Jacket Nation serta sekitar 15 band indie lokal seperti Stupid Brother, Horror Show, Holiday After Test, Tersanjung 13, Hard to Explain, In Fair Verona dan lainnya. Tiap band memainkan genre musik yang berbeda-beda mulai dari  punk, reggae, jazz, blues hingga pop.

Menurut Gadang, salah satu panitia yang bertanggungjawab atas amannya acara, panitia sama sekali tidak mengundang anak-anak punk-street ini. Mereka terbiasa atas informasi “dari mulut ke mulut” hingga mereka dapat berkumpul di satu tempat dalam suatu event musik, begitupun dalam acara ini.

Hadirnya Straight Jacket Nation, band indie Australia yang beraliran punk hardcore dan Tersanjung 13, band indie punk asal Jakarta yang keberadaanya sudah sangat akrab dalam komunitas punk membuat komunitas ini datang untuk menikmati dentuman musik band kesayangan mereka. Namun, berbeda dengan acara musik biasa yang hanya diisi band beraliran pop. Dalam musik yang menghadirkan aliran keras ini, dari banyaknya anak punk yang datang, hanya beberapa saja yang masuk dan menikmati musik.

Selebihnya memilih berkumpul dan mengobrol di sekitar aula untuk kemudian menunggu malam agar tidak dikenakan HTM sebesar 8.000 rupiah yang dirasa berat bagi punk-street. Kegiatan menunggu akhirnya sia-sia karena pihak panitia tidak membiarkan mereka “menjebol” ruangan dan mengganggu kenyamanan penonton lain karena ruang tersebut tidak begitu luas.

Surya Rizka, koordinator acara mengatakan, kendala yang dirasa hanyalah kurangmaksimal menjamu bule-bule Australia. Namun, Straight Jacket Nation sendiri merasa senang bisa tampil di kota Purwokerto. Soal kehadiran punkstreet, tidak ada kendala dalam menghadapi mereka. Mereka juga temankita, dan yang pasti pecinta setia musik indie. Selama mereka mengikutiaturan-aturan yang dberikan, kita juga akan menghargai mereka.(dee_yanz)

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di lpmsketsa.com, dimuat ulang di BU (beritaunsoed.com) agar tetap bisa diakses pembaca. Portal berita lpmsketsa.com resmi beralih ke beritaunsoed.com.

Related Posts

Tinggalkan Komentar Anda